Bab 10
Manusia dan Kegelisahan
A.
Pengertian
Kegelisahan
Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti
tidak tenteram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar,
cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak
tentram hati maupun perbuatannya, merasa kawatir, tidak tenang dalam tingkah
lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan.
Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi dari
kecemasan. Karena itu dalam kehidupan Sehari-hari, kegelisahan juga diartikan
sebagai kecemasan, kekawatiran ataupun ketakutan. Masalah kecemasan atau
kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisi dapat
disebutkan, behwa seseorang mengalami frustasi karena apa yang diinginkan tidak
tecapai.
Sigmund Freud ahli psikoanalisa berpendapat, bahwa ada
tiga macam kecemasan yang menimpa manusia yaitu kecemasan kenyataan (obyektif),
kecemasan neorotik dan kecemasan moril.
1. Kecemasan
Obyektif
Kecemasan tentang
kenyataan adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan atau Suatu
bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang
yang mengancam untuk mencelakakannya. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan
mungkin dari sifat pembawaan, dalam arti kata, bahwa seseorang mewarisi
kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia berada dekat dengan benda-benda
tertentu atau keadaan tertentu dari lingkungannya.
2. Kecemasan
Neorotis (Syaraf)
Kecemasan ini timbul
karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah. Menurut Sigmund Freud,
kecemasan ini dibagi tiga macam, yakni :
a. Kecemasan
yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan.
b. Bentuk
ketakutan yang tegang dan irrasional (phobia).
c. Rasa
takut lain ialah rasa gugup, gagap dan sebagainya.
3. Kecemasan
Moril
Kecemasan
moril disebabkan karena pribadi seseorang.Tiap pribadi memiliki bermacam-macam
emosi antara lain: iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah, cinta, rasa
kurang.
Rasa
iri, benci, dengki, dendam itu merupakan sebagian dari pernyataan individu
secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat. Oleh karena itu sering
alasan untuk iri, benci, dengki itu kurang dapat dipahami orang lain.
B.
Sebab-sebab
Orang Gelisah
Apabila kita kaji, sebab-sebab orang gelisah adalah
karena pada hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat
dari suatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam.
Contoh
:
Bila
ada suatu tanda bahaya (bahaya banjir, gunung meletus, atau perampokan), orang
tentu akan gelisah. Hal itu disebabkan karena bahaya itu mengancam akan
hilangnya beberapa hak orang sekaligus, misalnya hak hidup, hak milik, hak
memperoleh perlindungan, hak kemerdekaan hidup, dan mungkin hak nama baik.
Kalau misalnya, kentongan dipukul terus menerus dan disambung bersaut-sautan
makin lama makin dekat, tentu orang-orang akan gelisah. Gerangan apakah yang
akan terjadi? Meskipun berita peristiwa belum ada, tetapi yang jelas itu
merupakan tanda bahaya.
C.
Usaha-usaha
Mengatasi Kegelisahan
Mengatasi kegelisahan ini pertama-tama harus mulai
dari diri kita sendiri, yaitu kita harus bersikap tenang. Dengan sikap tenang
kita dapat berpikir tenang, sehingga segala kesulitan dapat kita atasi.
Contoh
:
Dokter
yang menghadapi istri dan anaknya yang sedang sakit, justru tidak dapat merasa
tenang, karena ada ancaman terhadap haknya. Dokter tidak dapat berbuat apa-apa
bila menghadapi keluarganya yang sakit, karena ia merasa khawatir. Dalam hal
ini dokter itu harus bersikap seperti menghadapi pasien yang bukan keluarganya.
D.
Keterasingan
Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu
adalah dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang,
sehingga kata terasing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari
yang lain, atau terpencil. Jadi kata keterasingan berarti hal-hal yang
berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang
lain.
E.
Kesepian
Kesepian berasal dari kata sepi yang berarti sunyi
atau lengang, sehingga kata kesepian berarti merasa sunyi atau lengang, tidak
berteman. Setiap orang pemah mengalami kesepian, karena kesepian bagian hidup
manusia, lama rasa sepi itu bergantung kepada mental orang dan kasus
penyebabnya.
Sebab-sebab
terjadinya kesepian :
Bermacam-macam penyebab terjadinya kesepian. Frustasi
dapat mengakibatkan kesepian. Dalam hal seperti itu orang tidak mau diganggu,
ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul, dan sebagainya. Ia
lebih senang hidup sendiri.
Contoh :
Pangeran Sidharta, putra raja Kapilawastu,
meninggalkan istana, tempat kemewahan, keramaian, dan ketidakpastian. Karena
frustasi menyaksikan kontradiksi keadaan istana dengan keadaan luar istana yang
penuh penderitaan, maka ia meninggalkan istana pergi ke tempat yang sepi,
mencari hakekat hidup.
F.
Ketidakpastian
Ketidak pastian berasal dari kata tidak pasti artinya
tidak menentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa
asal-usul yang jelas. Ketidak pastian artinya keadaan yang tidak pasti, tidak
tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, keadaan tanpa arah yang jelas,
keadaan tanpa asal-usul yang jelas. Itu semua adalah akibat pikirannya tidak
dapat konsentrasi. Ketidak konsentrasian disebabkan oleh berbagai sebab, yang
jelas pikirannya kacau.
G.
Sebab-sebab
Terjadi Ketidakpastian
Beberapa
sebab orang tak dapat berpikir dengan pasti ialah :
1. Obsesi
Obsesi merupakan gejala
neurosa jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus menerus,
biasanya tentang hal-hal yang tak menyenangkan, atau sebab-sebabnya tak diketahui
oleh penderita. Misalnya selalu berpikir ada orang yang ingin menjatuhkan dia.
2. Phobia
Phobia adalah rasa
ketakutan yang tak terkendali, tidak normal, kepada sesuatu hal atau kejadian
tanpa diketahui sebab-sebabnya.
3. Kompulasi
Kompulasi adalah adanya
keragu-raguan tentang apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tak
disadari melakukan perbuatan yang serupa berkali-kali.
4. Histeria
Histeria adalah neorosa
jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang
menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, sugesti dari sikap orang
lain.
5. Delusi
Delusi adalah menunjukkan
pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu keyakinan palsu. Tidak dapat
memakai akal sehat, tidak ada dasar kenyataan dan tidak sesuai dengan
pengalaman.
6. Halusinasi
Halusinasi
adalah khayalan
yang terjadi tanpa rangsangan pancaindera. Dengan sugesti diri orang dapat juga
berhalusinasi. Halusinasi buatan, misalnya dapat dialami oleh orang mabuk atau
pemakai obat bius.
7. Keadaan
Emosi
Dalam keadaan tertentu seseorang
sangat berpengaruh oleh emosinya. Ini nampak pada keseluruhan pribadinya
gangguan pada nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, nadi cepat, keringat,
tekanan darah tinggi/lemah. Sikapnya dapat apatis atau terlalu gembira dengan
gerakan lari-larian, nyanyian, ketawa atau berbicara. Sikap ini dapat pula
berupa kesedihan menekan, tidak bemnafsu, tidak bersemangat, gelisah, resah,
suka mengeluh, tidak mau berbicara, diam seribu bahasa, termenung, menyendiri.
Contoh ketidakpastian :
Seorang pedagang yang maju pesat, pada suatu saat
terpikir olehnya ada kawannya yang ingin menjatuhkannya. Pikiran itu tidak
hilang, tetapi justru menjadi-jadi. Apalagi setelah ia merugi.
H.
Usaha-usaha
Penyembuhan Ketidakpastian
Orang yang tidak dapat berpikir dengan baik, atau
kacau pikirannya ada bermacam-macam penyebabnya. Untuk dapat menyembuhkan
keadaan itu bergantung kepada mental si penderita. Andaikata penyebab sudah
diketahui, kemungkinan juga tidak dapat sembuh. Bila hal itu terjadi, maka
jalan yang paling baik bagi penderita ialah diajak atau pergi sendiri ke
psikolog.
Bila penyebabnya itu jelas, misalnya rindu, obatnya
mudah, yaitu dipertemukan dengan orang yang dirindukan. Phobia atau jenis takut
bisa dilatih dari sedikit, sehingga tidak takut lagi. Orang takut ular, takut
ulat yang berbulu, dapat disembuhkan karena dibiasakan dengan benda-benda
tersebut.
Orang yang bersikap sombong atau angkuh bila mengalami
musibah, baru berkurang kesombongannya, tetapi mungkin tidak. Andaikata mereka
sadar, kesembuhan itu adalah karena pengalaman. Jadi yang menyembuhkan
masyarakat sekitarnya dan dirinya sendiri.
Contoh
kasus :
Seseorang
yang tidak biasa bicara didepan umum ketika disuruh berpidato, maka ia akan
gugup, gelisah, gemetar, bahkan kehilangan keseimbangan, sehingga sulit
berbicara.
Analisa :
Rasa
gugup ini munculnnya secara tiba-tiba tanpa ada provokasi yang tegas. Reaksi
gugup ini adalah perbuatan meredakan diri yang bertujuan untuk membebaskan
seseorang dari kecemasan neorotis yang sangat menyakitkan dengan jalan
melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh diri sendiri meskipun ego dan superego
melarangnya.
Solusi :
Tetap
bersikap tenang, karena dengan sikap tenang segala kesulitan dapat kita hadapi.
Bab 11
Manusia dan Harapan
A.
Pengertian
Harapan
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan
supaya sesuatu terjadi, sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat
terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan. Harapan tersebut
tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan
masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang
yang mempunyai harapan, misalnya Rafi mengharapkan nilai A dalam ujian yang
akan datang, tetapi tidak ada usaha, tidak pernah hadir kuliah. Ia menghadapi
ujian dengan santai. Bagaimana Rafi memperoleh nilai A, luluspun mungkin tidak.
Semuanya itu dengan suatu keyakinan demi terwujudnya
apa yang diharapkan. Jadi untuk mewujudkan harapan itu harus disertai dengan
usaha yang sesuai dengan apa yang diharapkan Bila dibandingkan dengan cita-cita
, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk sedangkan cita-cita
pada umumnya perlu setinggi bintang. Antar harapan dan cita-cita terdapat
persamaam yaitu keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud.
B.
Apa
Sebab Manusia Mempunyai Harapan
1. Dorongan
Kodrat
Kodrat
ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri
manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira,
berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia
mempunyai kemampuan untuk itu semua.
Dorongan
kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis,
tertawa, bergembira, dan sebagainya. Seperti halnya Orang yang menonton
Pertunjukan lawak, mereka ingin tertawa, pelawak juga mengharapkan agar
penonton tertawa terbahak-bahak. Apabila penonton tidak tertawa, harapan kedua
belah pihak gagal, justru sedihlah mereka.
2. Dorongan
Kebutuhan Hidup
Sudah
kodrat pula bahwa manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Kebutuhan
hidup itu pada garis besamya dapat dibedakan atas : kebutuhan jasmani dan
kebutuhan rohani
Kebutuhan
jasmaniah misalnya : makan, minum, pakaian, rumah. (sandang, pangan, dan
papan), ketenangan, hiburan, dan keberhasilan.
Untuk memenuhi semua
kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan,
kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik/jasmaniah maupun
kemampuan berpikirnya.
Dengan
adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai
harapan. Pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
3. Kelangsungan
Hidup (Survival)
Untuk
melangsungkan hidupnya manusia membutuhkan sandang, ppangan dan papan (tempat
tinggal). Kebutuhan kelangsungan hidup ini terlihat sejak bayi lahir.
Untuk
mencukupi kebutuhan pangan, sandang, dan papan itu, maka manusia sejak kecil
telah mulai belajar. Dengan pengetahuan yang tinggi harapan memperolleh pangan,
sandang, dan papan yang layak akan terpenuhi. Atau tiap manusia perlu kerja
keras dengar harapan apa yang diinginkan (pangan, sandang dan papan) yang layak
terpenuhi.
4. Keamanan
Setiap
orang membutuhkan keamanan. Sejak seorang anak lahir ia telah membutuhkan
keamanan. Begitu lahir, dengan suara tangis, itu pertanda minta perlindungan.
Setelah agak besar, setiap anak menangis dia akan diam setelah dipeluk oleh
ibunya. Setelah bertambah besar ia ingin dilindungi. Rasa aman tidak harus
diwujudkan dengan perlindungan yang nampak, secara moral pun orang lain dapat
memberi rasa aman. Dalam hal ini agama sering merupakan cara memperoleh kemanan
moril bagi pemiliknya. Walaupun secara fisik keadaannya dalam bahaya, keyakinan
bahwa Tuhan memberikan perlindungan berarti sudah memberikan keamanan yang
diharapkan.
5. Hak
dan Kewajiban Mencintai dan Dicintai
Bila
seorang telah menginjak dewasa, maka ia merasa sudah dewasa, sehingga sudah
saatnya mempunyai harapan untuk dicintai dan mencintai. Pada saat seperti ini
remaja banyak mengkhayal. Ia telah sadar akan keberadaannya. Pada usia itu,
biasanya terjadi konflik batin pada dirinya dengan pihak orang tua. Sebab
umumnya remaja mulai menentang sifat-sifat orang tua yang dianggap tidak sesuai
dengan alamnya.
6. Status
Status
itu penting, karena dengan status orang tahu siapa dia. Harga diri orang antara
lain melekat pada status orang itu. Misalnya ada anak haram, biarpun anak haram
itu tingkah lakunya baik dan tidak berdosa sebab yang berdosa orang tuanya,
namun masyarakat tetap memberikan cap yang negatif. Bahkan ada orang yang
berpendapat jangan memberi makan/pertolongan kepada anak jadah (haram).
Alangkah kejamnya manusia itu dengan adanya harapan untuk memperoleh status ini
berarti orang menguasai hak milik nama baik, ingin berprestasi, ingin
mengingkatkan harga diri, dan sebagainya.
7. Perwujudan
Cita-cita
Selanjutnya
manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau
kepangakatannya atau profesinya. Pada saar itu manusia mengembangkan bakat atau
kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.
C.
Do’a
Do’a adalah ber-”ibadah” (menyembah). Yaitu jangan
menyembah selain daripada Allah, yakni sesuatu yang tidak memberikan manfaat
dan tidak pula mendatangkan madarat kepadamu.
Macam-macam do’a :
1. Do’a
Masalah (Permintaan)
Meminta untuk diberikan
manfaat dan dicegah dari kemudharatan, atau sesuatu yang sifatnya permintaan.
2. Do’a
Ibadah
Semua bentuk ibadah atau
ketaatan yang diberikan kepada Allah balk lahiriah maupun batiniah, karena pada
hakikatnya semua bentuk ibadah misalnya shalat, puasa, Haji dan sebagainya,
tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan ridha Allah dan dijauhkan dari
azab-Nya.
D.
Kepercayaan
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya
mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang
berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran.
Dr.Yuyun Suriasumantri dalam bukunya “filsafat Ilmu,
sebuah pengantar Populer ada tiga teori kebenaran sebagai berikut :
1. Teori
Koherensi atau Konsistensi
Yaitu suatu pernyataan
dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koherensi atau konsisten dengan
pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
2. Teori
Korespondensi
Suatu teori yang
menjalankan bahwa suatu pernyataan benar bila materi pengetahuan yang dikandung
pernyataan itu berkorenponden (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh
pernyataan tersebut.
3. Teori
Pragmatis
Kebenaran suatu
pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat
fungsional dalam kehidupan praktis.
E.
Berbagai
Kepercayaan dan Usaha untuk Meningkatkannya
Dasar
kepercayaan adalah kebenaran. Sumber kebenaran adalah manusia. Kepercayaan itu
dapat dibedakan atas :
1. Kepercayaan
pada diri sendiri
Kepercayaan pada diri
sendiri itu ditanamkan setiap pribadi manusia. Percaya pada diri sendiri pada
hakekatnya percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. Percaya pada diri sendiri,
menganggap dirinya tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan yang
diserahkan atau dipercayakan kepadanya.
2. Kepercayaan
kepada orang lain
Percaya kepada orang lain
itu dapat berupa percaya kepada saudara, orang tua, guru, atau siapa saja.
Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya terhadap kata hatinya,
perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenarannya. Ada ucapan
yang berbunyi orang itu dipercaya karena ucapannya. Misalnya, orang yang
berjanji sesuatu harus dipenuhi, meskipun janji itu tidak terdengar orang lain,
apalagi membuat janji kepada orang lain.
3. Kepercayaan
kepada pemerintah
Pandangan demokratis
mengatakan bahwa kedaulatan adalah dari rakyat, (kewibawaan pun milik rrakyat.
Rakyat adalah negara, rakyat itu menjelma pada negara. Satu-satunya realitas
adalah negara). Manusia sebagai seorang (individu) tak berarti. Orang mempunyai
arti hanya dalam masyarakat, negara. Hanya negara sebagai keutuhan (totalitas)
yang ada, kedaulatan mutlak pada negara, negara demikian itu disebut negara
totaliter. satu-satunya yang mempunyai hak ialah negara, manusia perorangan
tidak mempunyai hak, ia hanya mempunyai kewajiban (negara diktator)
4. Kepercayaan
kepada Tuhan
Kepercayaan kepada Tuhan yang maha
kuasa itu amat penting, karena keberadaan manusia itu bukan dengan sendirinya,
tetapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan
kebenaran. Kepercayaan itu amat penting, karena merupakan tali kuat yang dapat
menghubungkan rasa manusia dengan Tuhannya. Bagaimana Tuhan dapat menolong
umatnya, apabila umat itu tidak mempunyai kepercayaan kepada Tuhannya, sebab
tidak ada tali penghubung yang mengalirkan daya kekuatannya.
Berbagai usaha dilakukan manusia untuk meningkatkan
rasa percaya kepada Tuhannya.
Usaha itu bergantung kepada pribadi kondisi, situasi,
dan lingkungan. Usaha itu antara lain :
·
meningkatkan ketagwaan kita dengan jalan
meningkatkan ibadah
·
meningkatkan pengabdian kita kepada
masyarakat
·
meningkatkan kecintaan kita kepada sesama
manusia dengan jalan suka menolong, dermawan, dan sebagainya
·
mengurangi nafsu mengumpulkan harta yang
berlebihan
·
menekan perasaan negatif seperti iri,
dengki, fitnah, dan sebagainya
Contoh kasus :
Berharap
menjadi orang yang sukses.
Analisa :
Semua
manusia mempunyai harapannya masing-masing. Harapan setiap manusia pasti ingin
menjadi sukses dan hidup bahagia. Untuk menjadi sukses dan hidup bahagia, kita
harus menghadapi rintangan dan masalah dan kita jangan pantang menyerah. Apabila
kita mau mewujudkan harapan itu dengan kenyataan nya kita harus mempunyai rasa
suatu kepercayaan di dalam hati kita karena itu salah satu dasar untuk kita
mencapai sukses.
Solusi :
Untuk
mencapai itu semua, manusia tidak bisa hanya cuma dengan omongan di mulut saja
tapi harus di buktikan dengan perbuatan dan tindakan nya. Harus di dasari juga
dengan rasa kepercayaan dari diri kita sendiri maupun orang lain. Dan harus
percaya juga dengan kebesaran Allah karena tanpa bantuan-Nya usaha kita akan
percuma maka dari itu kita harus terus berdoa dan mendekatkan diri kepadanya.
Daftar Pustaka
Nugroho
Widyo dan Muchji Ahmad. (1996) MKDU Ilmu Budaya Dasar Depok Gunadarma
https://wakidyusuf.wordpress.com/2016/05/15/doa-bagian-1-pengertian-dan-macam-macam-doa/
Analisis Video
Bab 10
Manusia dan
Kegelisahan

Analisa :
Dalam video ini, Ustad Khalid Basalamah menjawab pertanyaan
tentang sudah beribadah, tetapi masih ada rasa galau, gelisah dan resah tanpa
sebab. Ustad Khalid menjawab “Jika ibadah yang anda lakukan sudah sesuai dengan
ajaran Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, inshaallah Allah hilang
gundah/gelisah tersebut”. Dalam surah Al-Insyirah ayat 5-6 Allah berfirman :
5. Fa inna ma’al ‘usri yusraa [yusran].
“Sebab sesungguhnya beserta [sehabis]
kesulitan itu ada kemudahan.”
6. Inna ma’al ‘usri yusraa [yusran].
“Sesungguhnya beserta [sehabis] kesulitan
itu ada kemudahan.”
Kesimpulan :
Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling
sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah,
sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan
pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah
bagi setiap manusia. Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah
Shalallahu Alaihi Wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun
ke-10 masa kenabiannya. Jadi maklumi saja jika
kita sebagai manusia merasakan kegelisahan, gundah gulana, kecemasan ataupun
kekhawatiran.
Bab 11
Manusia dan Harapan

https://youtu.be/xJm92IDBg64
Analisa :
Dalam
video ini diperlihatkan suasana haru menyelimuti saat pengumuman tes panpus TNI
AL. Tampak wajah kesedihan dari peserta tes yang gagal. Para keluarga dan rekan
yang telah menunggu tak merasa sedih dengan hasil yang didapatkan, tapi tak
sedikit yang memberi semangat untuk mereka yang gagal.
Kesimpulan :
Kegagalan
bukan merupakan akhir dari segalanya. Kegagalan merupakan awal dari kesuksesan.
Jika kita gagal, kita jangan menyerah, kita harus tetap berjuang untuk mencapai
harapan dan cita-cita kita.